Minggu, 17 Mei 2015

PKMU 3



Bismillah
Report PKM UNJ 3
Sabtu 9 Mei-Sabtu 16 Mei 2015

                Keluarga PKMU kembali melakukan aksinya. Saat itu jarkoman dimalam hari membuat kami bingung dengan agenda apa yang kami lakukan di esok hari. “ Peserta wajib hadir pukul 9 pagi di kampung sawah, penas kalimalang, membawa barang-barang dan makanan apa saja yang bisa dijual,……”. Teman-teman kelompok 6 pun bergegas menyusun strategi untuk agenda besok yakni pengabdian masyarakat. Saat itu saya sendiri yang mengawali pagi dengan agenda rapat dikampus UNJ akhirnya telat tiba di lokasi. Saat itu sekitar pukul 10 kurang saya serta 2 orang anggota kelompok 6(Habib dan Kak Tesya) tiba di halte penas kalimalang. Setelah itu kami segera mencari lokasi dan tak lama muncul panitia dengan almamater hijau, setelah itu kami langsung menuju ketempat panitia tersebut. Disana kami melihat gunung sampah yang cukup luas hingga kami pun dapat berjalan diatasnya. Sebelumnya kami mengisi absen kehadiran dan setelahnya langsung menuju tempat peserta berkumpul. Benar saja, sudah ada barisan panjang keluarga pkmu di sebuah jalan saat itu. Jika saya tidak salah ingat, peserta sedang mendapatkan pengarahan terkait apa yang harus mereka lakukan selepas ini oleh panitia, kak Ronny dan seorang bapak yang merupakan ketua rt 01. Setelah berlangsung beberapa lama peserta pkmu akhirnya memulai aksi nya. Menurut anggota keluarga kelompok 6 yaitu kak Kesta dan Nunu, peserta diminta untuk melakukan analisis sosial yang harus berakhir saat zuhur. Dari sana peserta bisa memulai kegiatan aksi sosial yang akan dilakukan. Saya dan teman-teman pun langsung menghampiri seorang warga yang sedang duduk-duduk didepan rumahnya. Saat itu seorang bapak yang sedang membetulkan kabel alat elektroniknya beserta anaknya yang bermain di sekitar nya menyambut kami dengan baik. Ternyata beliau adalah seseorang yang sangat memperhatikan kondisi kampungnya itu, karena sejak lahir beliau memang telah tinggal disitu. Beliau pun ternyata adalah adik dari ketua rt 01. Beliau menuturkan bahwa kampung tersebut mengalami kendala yang cukup sering datang yakni banjir. Beliau juga menuturkan bahwa ada ketidak nyamanan dalam menggunakan mck yang memang saat itu saya lihat kondisinya sangat buruk, terlebih lagi ternyata mck tersebut digunakan secara bersama oleh warga sekitar. Kemudian setelah itu kami pun melanjutkan penelusuran ke kawasan penduduk yang lebih jauh kebelakang. Dan tak terasa adzan zuhur pun telah berkumandang. Segera keluarga pkmu pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Setelah sholat berjamaah, kami di kumpulkan di sebuah masjid yang letaknya ada didepan kampung tersebut. Kami mulai mengeluarkan analisis dari tiap-tiap kelompok dan akhirnya memutuskan untuk membangun aula yang perlu pembangunan lanjut, mck, penghijauan dan membuat taman baca. Lalu muncul bagian uniknya, yakni menentukan anggaran. Kami mentotalkan kegiatan tersebut akan memakan biaya sekitar 13 juta, lalu dari panitia membulatkan menjadi 15 juta dan peserta pun menyetujuinya. Namun yang mengejutkan peserta, setelah itu panitia meminta kita untuk memunculkan uang sebesar 15 juta dengan kisaran waktu kurang lebih 4 jam. Sunggu benar-benar mengejutkan untuk saya. Luar biasanya para peserta yang sebelumnya melihat sambutan baik dari penduduk sekitar dengan segala kemampuan mereka akhirnya menghadapi hal tersebut dengan semangat dan senyuman. Saya dan kelompok 6 memulai perjalanan dengan berdoa. Setelah itu kami memutuskan untuk melakukan aksi galang dana. Sebelumnya sempat membingungkan untuk kami, namun kami memutuskan untuk melakukan aksi dari kramat jati sampai ke cawing uki. Ditengah perjalanan sungguh banyak cerita haru yang saya rasakan. Saya dapat merasakan langsung bahwa sesungguhnya tidak semua rakyat Indonesia menyambut baik agenda tersebut, namun tidak sedikit yang rela mengeluarkan rezeki nya untuk membantu agenda tersebut. Walaupun wajah kelelahan telah Nampak dalam kelompok kami saat itu namun tawa canda dalam perjalanan saat itu sudah menjadi teman terbaik kami. Setelah lama berjalan tak terasa tenyata kami telah mendekati lokasi pengabdian masyarakat. Setelah menghitung uang yang kami dapat, yaitu sekitar 350 ribu rupiah kami akhirnya berkumpul kembali di dalam masjid. Mengejutkan, ternyata dalam waktu 4 jam seluruh peserta dapat mengumpulkan uang sebesar 12 juta rupiah. Allah memang mengetahui hambanya yang telah berusaha. Hari itu pun ditutup dengan pengumpulan uang dan keesokannya keluarga pkmu telah sepakat untuk melakukan aksi sosial. Hari pertama adalah hari yang sangat berkesan. Tepatnya pada hari minggu kita mulai membagi tugas satu sama lainnya. Peserta putri mencoba untuk mengumpulkan anak-anak yang tinggal di daerah tersebut untuk akhirnya belajar bersama. Sementara para peserta putra mulai bekerja bakti membenahi aula. Bersama dengan bapak-bapak yang tinggal di daerah tersebut peserta putra bergotong royong mengaduk semen, membeli peralatan dan bahan-bahan, menghaluskan dinding, dan membereskan aula yang sebelumnya banyak terdapat kayu-kayu dan juga bebatuan. Disana ada kejadian lucu dimana peserta putra kebingungan ingin mengerjakan apa. Karena sebagian pekerjaan sudah di handle oleh bapak-bapak yang memang sudah ahli dalam hal tersebut. Akhirnya dari sana lah kita mencoba meminta penjelasan dan perlahan-lahan peserta putra mulai mahir dalam bekerja. Hal lainnya yang tidak terlupakan khususnya bagi saya adalah saat jam makan siang. Sejujurnya masakan para ibu di daerah kampung sawah adalah benar-benar lezat rasanya. Kegiatan tersebut pun tak terasa telah berlangsung selama satu pekan. Dan tak terasa Sabtu kemarin adalah hari terakhir saya menginjakkan kaki dalam agenda aksi sosial di kampung sawah. Sebuah momen mengharukan adalah ketika seorang anak bertanya kepada saya apakah saya akan datang lagi ke kampung tersebut ?. Dari sini saya sungguh melihat ada sebuah jalinan yang sebelumnya tidak pernah ada. Jalinan yang mebuat kita menjadi sebuah keluarga baru. Allah telah mempersatukan hati-hati kami, kelompok 6, keluarga besar pkmu 2015, serta penduduk kampung sawah penas kalimalang rt01. Saya pribadi memanjatkan doa untuk kakak-kakak panitia pkmu 2015. Karena sejatinya melalui perantara kalian lah kegiatan bermanfaat berbalut rasa kekeluargaan ini terjadi.
Salam untuk warga kampung sawah rt 01, panitia pkmu 2015, rekan-rekan pkmu 2015, arif, mujahid, dede, cut roby, andri, galih, soleh, ichsan, bang erwan, bang bagus, bang fajar, bang daud, bang arief, izhar, kelompok 6 pkmu 2015 (nunu, kak tesya, muti, dewi, bang hendy, bang hadi, bang kesta, habib)
Dari saudara kalian, Mohammad Hafizh,  mtk fmipa 2013

Jumat, 08 Mei 2015

Bismillah
Report Aksi Hardiknas "Wisata Hati ke Kemendikbud"
Oleh Mohammad Hafizh, Matematika, Fmipa, UNJ, 2013

Jumat 8 Mei 2015, barisan mahasiswa saat itu memenuhi bagian gerbang dari gedung kemendikbud. Gaungan "Hidup Mahasiswa" pun berkali-kali mereka lontarkan, nyaring namun masih cukup sulit membangunkan bapak dan ibu pimpinan negara dalam gedung yang menjulang itu. Saya yang ketika itu hadir sekitar pukul 16.00 cukup heran menyaksikan kejadian tersebut. Karena sebuah hal yang membingungkan bagi saya kiranya pada hari itu suara  yang saat itu begitu kerasnya, keinginan baik yang begitu besarnya, belum kunjung mendapatkan sambutan yang baik, sampai se-sore itu. Saat itu aliansi BEM se Jabodetabek Banten yang menurut pelaporan di lokasi terdiri dari masa aksi universitas negeri jakarta, bsi, sebi dan juga universitas esa unggul, membawa sebuah wacana pendidikan(tuntutan terhadap mendikbud) yang terdiri dari :
1. Menegaskan Kurikulum Nasional
2. Peninjauan kembali pelaksanaan UN sesuai dengan konstitusi(UU Sisdiknas pasal 58 ayat 1 dan 2)
3. Mensejahterakan guru terutama yang didistribusikan ke daerah
4. Menghentikan liberalisasi pendidikan
5. Reformasi Pendidikan moral Bangsa

Saat itu masa aksi menyampaikan beberapa kali orasi ilmiah terkait tuntutan yang mereka bawa. Pun ada perwakilan dari masa aksi yaitu para presiden mahasiswa yang melakukan negosiasi dengan pihak kemendikbud agar masa aksi dapat langsung berbincang dengan pak anis baswedan. Juga sebuah aksi kreatif berupa teaterikal berhasil masa aksi bawakan. Saat itu masa aksi menunjukan bahwa revolusi mental yang selama ini dibanggakan oleh Jokowi tidak nampak hasilnya, alias hanya omong kosong belaka. Jelas bahwa kondisi pelajar di Indonesia semakin parah moralnya, tebukti salah satunya dengan menyebarnya kabar pesta bikini dikalangan pelajar dalam rangka merayakan selesainya ujian nasional. Akhirnya setelah sekian lama menunggu pihak kemendikbud ada yang menemui mahasiswa, dan hal itu menandakan bahwa presiden mahasiswa telah berhasil bernegosiasi dengan pihak kemendikbud. Namun menurut pandangan saya jawaban dari pihak terkait belum memuaskan hasrat saya sendiri sebagai mahasiswa. Mereka "menjanjikan" akan ada diskusi dengan pak anis baswedan langsung terkait dengan hal ini, namun janji yang mereka lontarkanpun mereka lontarkan dengan nada keraguan. Wallahua'lam. Semoga Allah selalu menjaga sang ibu pertiwi.



Senin, 04 Mei 2015

report pkmu 2




Bismillah
            Perjalanan PKMU saya mulai diwaktu pagi. Saat itu sekitar pukul 6 pagi saya berangkat dari rumah menuju kampus A UNJ. Dalam perjalanan saya ke kampus A, seorang anggota dari kelompok saya, kelompok 6, yaitu Habib telah menunggu kedatangan saya di kampus A karena sebelumnya kami berencana untuk berangkat bersama dengan transjakarta. Setibanya di kampus A, saya langsung bergegas menemui  Habib, dan tidak lama kami langsung bertemu,kemudian bersegera ke  halte transjakarta untuk kemudian menuju stasiun Kota. Kami menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 45 menit, saat itu jalanan cukup sepi sehingga perjalanan kami sangatlah lancar.
            Setibanya  di stasiun Kota, saya dan Habib langsung membagi tugas yakni tugas menjaga barang-barang dan memesan tiket kelompok. Kebetulan saat itu saya harus memesankan tiket untuk anggota kelompok lain. Barisan antrean yang cukup panjang akhirnya membuat saya menunggu cukup lama. Dan saat mengantre tiba-tiba ada kabar dari panitia bahwa tiap orang hanya  dapat memesan maksimal 4 tiket. Akhirnya saya berusaha untuk menghubungi annggota kelompok saya yang lain untuk akhirnya melengkapi jumlah pembelian tiket yang harus sesuai dengan jumlah anggota kelompok yaitu sekitar 10 orang. Walaupun ada sedikit kendala yaitu anggota kelompok yang cukup lama hadir sehingga saya cukup bingung mengkoordinir pembelian tiket yang kurang, akhirnya tiket berhasil saya dan kelompok saya beli.
            Saat selesai membeli tiket, kami sempatkan untuk duduk-duduk sebentar sekaligus melakukan perkenalan satu sama lain. Akhirnya saya memiliki banyak teman lagi setelah sebelumnya saya mengenal Habib fisika 2013, Bang Hendy kimia 2013 dan juga Dewi kimia 2013, saya akhirnya mengenal anggota kelompok lainnya yaitu Bang Hadi S teknik sipil 2012, kak Tesya managemen pendidikan 2012,Nunu pgsd 2013, Muti sosiologi 2013. Sebenarnya ada satu anggota lagi namun perkenalan dengannya berlangsung pada hari h PKMU yaitu Bang Kesta bahasa jepang 2012  Perkenalan kami cukup singkat saat itu kemudian kami mengabadikan foto sebelum akhirnya naik ke kereta.
            Di kereta, perbincangan demi perbincangan mulai mencairkan suasana. Kami saling berbagi terkait kesibukan kami dijurusan dan sebagainya. Sampai tak terasa saya dan kelompok 6 tiba di stasiun Karawang. Tidak begitu lama di stasiun Karawang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke desa pisangan, karena saat itu kami hanya memanfaatkan waktu untuk sholat. Kami bersama keluarga besar PKMU, berkumpul di lapangan depan stasiun setelah sholat kemudian menuju desa pisangan dengan angkot yang sudah disewa dengan harga sekitar 150 ribu rupiah. Perjalanan kali ini benar-benar terasa sangat lama. Dengan kondisi jalan yang kurang baik juga menghambat perjalanan kami. Namun walaupun dalam perjalanan saat itu banyak yang akhirnya tidur, saya mendapatkan pengalaman unik yaitu berbincang dengan Bang Hadi. Beliau bercerita pengalamannya terkait opmawa di jurusannya dan fakultasnya, sehingga tanpa sadar tiba-tiba di kanan kiri  perjalanan mulai terlihat pantai yang menandakan bahwa kami mendekati desa pisangan.
            Setibanya disana, kami langsung dikondisikan oleh panitia untuk berbaris dilapangan dengan maksud untuk penjelasan medan. Dan akhirnya kami di posisikan dalam rumah warga. Kebetulan kelompok 6 di perkenankan untuk tinggal di rumah pak Alim. Hari pertama diawali dengan presentasi kelompok. Hingga malam harinya kami mengondisikan untuk bercengkrama dengan ibu Alim, istri dari pak Alim. Kami juga bermain-main dengan anak dari bapak dan ibu Alim. Ada Ir dan juga Nico. Sampai pada hari berikutnya, saya dan teman-teman kelompok 6 kembali melanjutkan agenda pkmu. Dengan sebelumnya mengadakan bersih-bersih rumah selanjutnya kami lanjut mengadakan agenda pkmu seperti presentasi dan juga mendengarkan dan diskusi dalam materi kontra intelijen dan materi public relation. Sampai pada malam harinya kami keluarga besar pkmu bisa sama-sama bercengkrama dengan warga desa pisangan dalam agenda makan malam bersama.
Dikemudianhari, sayadan keluarga besar pkmu kembali melanjutkan hari-hari kami. Saat itu ada momen luar biasa dimana kami bersama membersihkan desa dari sampah-sampah yang ada disana. Kami juga mengadakan kegiatan bermain sambil belajar dengan tunas bangsa dari desa pisangan. Sampai tak terasa kami sudah kembali dikumpulkan lagi dilapangan untuk persiapan pulang. Namun ada sebuah kejadian yang membuat saya cukup berat untuk pergi. Disaat kelompok 6 berpamitan dengan keluarga pak Alim, ternyata anak dari pak Alim yang bernama Ira meneteskan air matanya akan kepergian kami. Sebuah hal yang cukup mengharukan untuk saya. Disitu saya merasa bahwa telah terjalin hubungan kakak dan adik diantara kami. Namun karena sudah waktunya untuk pulang maka dengan berat hati kelompok 6 harus meninggalkan desa pisangan. Yang sekarang tertinggal adalah harapan dalam diri saya akan suatu ketika saya bisa mewujudkan harapan seorang ustadz dari desa pisangan bahwasanya perlu ada orang-orang yang bisa membantu penunjangan pendidikan di desa tersebut agar suatu hari nanti anak-anak desa pisangan dapat membantu orang tua mereka dalam memutus rantai kemiskinan disana.
Salam mahasiswa Indonesia